Definisi
Tuberkulosis.
“Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksius,
terutama menyerang parenkim paru. Tuberkulosis dapat juga ditularkan kebagian
tubuh lain, termasuk meninges, ginjal, tulang dan nodus limfe. Agen infeksius
utama, mycobacterium tuberculosis, adalah
batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas
dan sinar ultraviolet. M. bovis dan M. avium pernah, pada kejadian yang
jarang, berkaitan dengan terjadinya infeksi tuberkulosis” (C.Smeltzer & G.Bare, 2005) .
“Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim
paru karena infeksi kuman mycobacterium
tuberculosis. Tuberkulosis paru termasuk suatu pneumonia, yaitu pneumonia yang
disebabkan oleh M. tuberkulosis. Tuberkulosis
paru mencakup 80% dari keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan
20% selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmonar. Diperkirakan bahwa
sepertiga penduduk dunia pernah terinfeksi kuman M. tuberkulosis” (Djojodibroto, 2009) .
Sehingga dapat
disimpulkan bahwa tuberkulosis merupakan penyakit infeksius yang disebabkan
oleh bakteri tahan asam yaitu M.
tuberkulosis, M. bovis dan M. avium, namun
paling sering adalah M. Tuberkulosis yang
ditularkan melalui udara. Apabila bakteri ini dihirup dan memasuki saluran
pernafasan manusia dapat menyebabkan radang pada parenkim paru yang selanjutnya
juga dapat menyebar juga pada organ lain.
Macam-Macam
Tuberkulosis.
Tuberkulosis berdasarkan perjalanan penyakitnya
terbagi menjadi dua, yaitu Tuberkulosis infeksi primer dan pasca primer.
Tuberkulosis
Infeksi Primer.
Infeksi Primer adalah individu yang terinfeksi basil
Tuberkulosis untuk pertama kalinya.
Tuberkulosis
Infeksi Pasca Primer
Sedangkan Tuberkulosis Pasca Primer merupakan
individu yang pernah mengalami infeksi primer. Biasanya mempunyai mekanisme
daya kekebalan tubuh terhadap basil Tuberkulosis. Hal ini dapat terlihat pada
tes tuberkulin yang menimbulkan reaksi positif.
Tanda
dan Gejala Tuberkulosis.
Umumnya pada awal kuman Tuberkulosis menginfeksi
seperti yang terjadi pada infeksi primer tidak menunjukan gejala yang berarti.
Namun gejala akan semakin nampak pada Tuberkulosis yang telah berkembang, umur,
dan kondisi kesehatan penderita. Biasanya gejala yang ditimbulkan berupa gejala
umum dan gejala respiratorik.
2.2.4.1 Gejala
Umum.
Gejala umum ini berupa demam dan malaise. Demam timbul pada petang dan
malam hari disertai dengan berkeringat. Demam ini mirip dengan demam yang
disebabkan oleh influenza yang dapat
mencapai suhu 40-41°C. Gejala demam ini bersifat hilang timbul. Malaise kadang
juga menyertai pada penyakit ini jika terjadi dalam jangka waktu panjang berupa
pegal-pegal, rasa lelah, anoreksia,
nafsu makan berkurang, serta penurunan berat badan.
2.2.4.2 Gejala
Respiratorik.
Gejala yang paling
sering terjadi dan indikator dari penyakit tuberkulosis paru aktif ini berupa
batuk kering atau batuk produktif. Batuk ini bersifat persisten karena
perkembangan penyakit lambat. Gejala sesak nafas timbul jika terjadi pembesaran
nodus limfa pada hilus yang menekan bronkus, atau terjadi efusi pleura,
ekstensi radang parenkim. Nyeri dada biasanya bersifat nyeri pleuritik karena mengenai
pleura. Hemoptisis dimulai dari yang ringan sampai berat mungkin terjadi. Pada
reaktivitas tuberkulosis, gejalanya berupa demam menetap yang naik dan turun (hectic fever), berkeringat pada malam
hari yang menyebabkan basah kuyup (drenching
night sweat), kaheksia, batuk kronik dan hemoptisis. Pemeriksaan fisik
sangat tidak sensitif dan sangat non spesifik terutama pada fase awal penyakit.
Pada fase lanjut diagnosis lebih mudah ditegakkan melalui pemerikasan fisik,
berupa terdapat demam, penurunan berat badan, crackle, mengi, dan suara
bronkial. Tidak jarang terdapat pula efusi pleuraPathway/ Pohon Masalah
Klasifikasi
data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu ketika klien
mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria
permasalahannya. Klasifitasi ini berdasarkan pada kebutuhan dasar manusia yang
dikelompokkan dalam data subyektif dan data obyektif. Lalu membuat interpretasi
atas data yang sudah dikelompokkan dalam bentuk masalah keperawatan atau
masalah kolaboratif. Kemudian menentukan hubungan sebab akibat. Setelah masalah
keperawatan telah ditentukan, kemudian perawat menentukan faktor-faktor yang
berhubungan atau faktor resiko yang kemungkinan menjadi penyebab dari masalah
yang terjadi. Kemungkinan penyebab harus mengacu pada kelompok data yang sudah
ada. Selanjutnya barulah merumuskan diagnosis keperawatan. Perumusan diagnosa
keperawatan didasarkan pada identifikasi masalah dan kemungkinan penyebab (Rohmah S.Kep.Ns & Walid S.Kep.Ns, 2009) . Berdasar data
pengkajian pada pasien TB Paru, diagnosa keperawatan dapat mencakup : Bersihan
jalan nafas tidak efektif yang berhubungan dengan sekresi trakeobronkial yang
sangat banyak, ketidakpatuhan terhadap regimen pengobatan, Intoleran aktifitas
yang berhubungan dengan keletihan; perubahan status nutrisi; dan demam, Kurang
pengetahuan tentang regimen pengobatan dan tindakan kesehatan preventif (C.Smeltzer & G.Bare, 2005) . Adapun berbagai
diagnosa yang telah disebutkan, penulis menetapkan diagnosa keperawatan dengan
masalah keperawatan “Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif” yang akan dibahas
lebih jauh pada pasien TB paru dengan gangguan kebutuhan dasar oksigenasi.
Menurut Somantri dalam Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Gangguan Sistem Pernafasan (2008:64) mengatakan penderita
TB paru dapat dikatakan mengalami gangguan oksigenasi dengan bersihan jalan
tidak efektif jika ditemukan data-data sebagai berikut : pasien mengeluh batuk,
mengeluh sesak, mengatakan ada sekret di saluran nafas, serta pada pemeriksaan
auskultasi adanya suara nafas abnormal (ronchi, rales, wheezing) dengan
frekuensi nafas lebih dari 20x/mnt.
Perencanaan.
Intevensi keperawatan adalah desain spesifik dari
perencanaan tindakan yang yang dapat dilakukan untuk membantu klien dan
mencapai kriteria hasil. Rencana intervensi tersebut disusun berdasarkan
penyebab dari diagnosa keperawatan. Tindakan tersebut meliputi intervensi
asuhan keperawatan independen berdasarkan diagnosa keperawatan, tindakan medis
berdasarkan diagnosa medis, dan membantu pemenuhan kebutuhan dasar fungsi
kesehatan yang tidak dapat dilakukan (Nursalam, 2011) . Ketidakmampuan
pasien dalam memenihi kebutuhan adalah dasar dalam menentukan rencana
keperawatan yang akan dilakukan, dari serangkaian tindakan yang dilakukan
diharapakan pasien nantinya dapat memenuhi kebutuhan dasarrnya sendiri (Maryam, Setiawati, & Ekasari, 2007) . Pada pasien TB paru
dengan diagnosa Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif, dapat dirumuskan perencana
sebagai berikut menurut Somantri dalam Asuhan
Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernafasan (2008:64) :
1) Kemungkinan penyebab : Produksi sekret kental
berlebih, fatigue, kemampuan batuk kurang.
2) Tujuan dari tindakan : Setelah dilakukan
tindakan keperawatan diharapkan jalan nafas bersih dengan kriteria yaitu pasien
mengatakan batuk berkurang/hilang, tidak sesak dan sekret berkurang; suara
nafas vesikuler, reguler; frekuensi nafas 16-20x/mnt (dewasa).
3) Tindakan yang dapat direncanakan :
Adanya perubahan fungsi
respirasi dan penggunaan otot tambahan menandakan kondisi penyakit yang masih
dalam kodisi penanganan penuh sehingga diperlukan monitor fungsi respirasi
antara lain suara, jumlah, irama, dan kedalaman nafas serta catat pula
penggunaan otot nafas tambahan. Ketidakmampuan mengeluarkan sekret menjadikan
timbulnya penumpukan berlebihan pada saluran pernafasan maka catat kemampuan
mengeluarkan sekret/batuk secara efektif. Atur posisi tidur semi atau high
fowler dan bantu pasien berlatih batuk secara efektif dan nafas dalam. Posisi
semi fowler memberi kesempatan paru untuk berkembang secara maksimal, batuk
efektif memudahkan ekspektorasi mukus. Bersihkan sekret dalam mulut dan trakea,
suction jika mungkin. Pasien yang sesak cenderung bernafas melalui mulut, jika
berlanjut berakibat stomatitis. Beri minum |
Diagnosa
Keperawatan
|
Perencanaan
|
||
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
|
Bersihan jalan
nafas tidak efektif b/d :
§ Produksi
Sekret kental berlebih.
§ Fatigue.
§ Kemampuan
batuk kurang.
Data-Data
:
Subyektif:
· Pasien
mengeluh batuk
· Pasien
mengeluh sesak.
· Pasien
mengatakan ada sekret di saluran nafas.
Obyektif:
· Suara
nafas abnormal(ronchi, rales, wheezing).
· Frekuensi
nafas....x/mnt (>20x/mnt)
|
Jalan nafas bersih dan efektif setelah...hari
perawatan, dengan kriteria :
· Pasien
mengatakan batuk berkurang/hilang, tidak sesak dan sekret berkurang.
· Suara
nafas vesikuler, reguler.
· Frekuensi
nafas 16-20x/mnt (dewasa).
|
Independen
:
1. Monitor
fungsi respirasi antara lain : suara, jumlah, irama, dan kedalaman nafas
serta catat pula penggunaan otot nafas tambahan.
2. Catat
kemampuan mengeluarkan sekret/batuk secara efektif.
3. Atur
posisi tidur semi atau high fowler. Membantu pasien berlatih batuk secara
efektif dan nafas dalam.
4. Bersihkan
sekret dalam mulut dan trakea, suction jika mungkin.
5. Beri
minum
Kolaborasi
:
6. Beri O2,
udara inspirasi yang lembab.
7. Beri
pengobatan sesuai indikasi :
· Agen
mukolitik : Acetilcystein.
· Bronkodilator
: Theophyline, Oxtriphyline.
· Kortikodteroid
: Dexamethasone.
8. Berikan
anti-infeksi
|
1. Adanya
perubahan fungsi respirasi dan penggunaan otot tambahan menandakan kondisi
penyakit yang masih dalam kodisi penanganan penuh.
2. Ketidakmampuan
mengeluarkan sekret menjadikan timbulnya penumpukan berlebihan pada saluran
pernafasan.
3. Posisi
semi fowler memberi kesempatan paru untuk berkembang secara maksimal, batuk
efektif memudahkan ekspektorasi mukus.
4. Pasien
yang sesak cenderung bernafas melalui mulut, jika berlanjut berakibat
stomatitis.
5. Air
dapat menggantikan keseimbangan cairan tubuh akibat banyaknya cairan keluar
melalui mulut. Air hangat dapat mempermudah penganceran sekret.
6. Berfungsi
meningkatkan kadar O2 dalam darah.
7. Berfungsi
untuk mengencerkan dahak, memperlebar saluran nafas, mempertebal dinding
daluran udara.
8. Menurunya
keaktifan mikroorganisme akan menurunkan respon inflamasi,sehingga
berkurangnya produksi sekret.
|


Tidak ada komentar:
Posting Komentar