Translate

Rabu, 28 Januari 2015

LAPORAN PENDAHULUAN (LP) TB PARU KEPERAWATAN

  Definisi Tuberkulosis.
“Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksius, terutama menyerang parenkim paru. Tuberkulosis dapat juga ditularkan kebagian tubuh lain, termasuk meninges, ginjal, tulang dan nodus limfe. Agen infeksius utama, mycobacterium tuberculosis, adalah batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet. M. bovis dan M. avium pernah, pada kejadian yang jarang, berkaitan dengan terjadinya infeksi tuberkulosis” (C.Smeltzer & G.Bare, 2005).
“Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi kuman mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru termasuk suatu pneumonia, yaitu pneumonia yang disebabkan oleh M. tuberkulosis. Tuberkulosis paru mencakup 80% dari keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan 20% selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmonar. Diperkirakan bahwa sepertiga penduduk dunia pernah terinfeksi kuman M. tuberkulosis” (Djojodibroto, 2009).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tuberkulosis merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri tahan asam yaitu M. tuberkulosis, M. bovis dan M. avium, namun paling sering adalah M. Tuberkulosis yang ditularkan melalui udara. Apabila bakteri ini dihirup dan memasuki saluran pernafasan manusia dapat menyebabkan radang pada parenkim paru yang selanjutnya juga dapat menyebar juga pada organ lain.


Macam-Macam Tuberkulosis.
Tuberkulosis berdasarkan perjalanan penyakitnya terbagi menjadi dua, yaitu Tuberkulosis infeksi primer dan pasca primer.
Tuberkulosis Infeksi Primer.
Infeksi Primer adalah individu yang terinfeksi basil Tuberkulosis untuk pertama kalinya.
Tuberkulosis Infeksi Pasca Primer
Sedangkan Tuberkulosis Pasca Primer merupakan individu yang pernah mengalami infeksi primer. Biasanya mempunyai mekanisme daya kekebalan tubuh terhadap basil Tuberkulosis. Hal ini dapat terlihat pada tes tuberkulin yang menimbulkan reaksi positif.

Tanda dan Gejala Tuberkulosis.
Umumnya pada awal kuman Tuberkulosis menginfeksi seperti yang terjadi pada infeksi primer tidak menunjukan gejala yang berarti. Namun gejala akan semakin nampak pada Tuberkulosis yang telah berkembang, umur, dan kondisi kesehatan penderita. Biasanya gejala yang ditimbulkan berupa gejala umum dan gejala respiratorik.
2.2.4.1    Gejala Umum.
Gejala umum ini berupa demam dan malaise. Demam timbul pada petang dan malam hari disertai dengan berkeringat. Demam ini mirip dengan demam yang disebabkan oleh influenza yang dapat mencapai suhu 40-41°C. Gejala demam ini bersifat hilang timbul. Malaise kadang juga menyertai pada penyakit ini jika terjadi dalam jangka waktu panjang berupa pegal-pegal, rasa lelah, anoreksia, nafsu makan berkurang, serta penurunan berat badan.
2.2.4.2    Gejala Respiratorik.
Gejala yang paling sering terjadi dan indikator dari penyakit tuberkulosis paru aktif ini berupa batuk kering atau batuk produktif. Batuk ini bersifat persisten karena perkembangan penyakit lambat. Gejala sesak nafas timbul jika terjadi pembesaran nodus limfa pada hilus yang menekan bronkus, atau terjadi efusi pleura, ekstensi radang parenkim. Nyeri dada biasanya bersifat nyeri pleuritik karena mengenai pleura. Hemoptisis dimulai dari yang ringan sampai berat mungkin terjadi. Pada reaktivitas tuberkulosis, gejalanya berupa demam menetap yang naik dan turun (hectic fever), berkeringat pada malam hari yang menyebabkan basah kuyup (drenching night sweat), kaheksia, batuk kronik dan hemoptisis. Pemeriksaan fisik sangat tidak sensitif dan sangat non spesifik terutama pada fase awal penyakit. Pada fase lanjut diagnosis lebih mudah ditegakkan melalui pemerikasan fisik, berupa terdapat demam, penurunan berat badan, crackle, mengi, dan suara bronkial. Tidak jarang terdapat pula efusi pleura (Djojodibroto, 2009)


Pathway/ Pohon Masalah 





Perumusan Diagnosa.
Klasifikasi data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu ketika klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya. Klasifitasi ini berdasarkan pada kebutuhan dasar manusia yang dikelompokkan dalam data subyektif dan data obyektif. Lalu membuat interpretasi atas data yang sudah dikelompokkan dalam bentuk masalah keperawatan atau masalah kolaboratif. Kemudian menentukan hubungan sebab akibat. Setelah masalah keperawatan telah ditentukan, kemudian perawat menentukan faktor-faktor yang berhubungan atau faktor resiko yang kemungkinan menjadi penyebab dari masalah yang terjadi. Kemungkinan penyebab harus mengacu pada kelompok data yang sudah ada. Selanjutnya barulah merumuskan diagnosis keperawatan. Perumusan diagnosa keperawatan didasarkan pada identifikasi masalah dan kemungkinan penyebab (Rohmah S.Kep.Ns & Walid S.Kep.Ns, 2009). Berdasar data pengkajian pada pasien TB Paru, diagnosa keperawatan dapat mencakup : Bersihan jalan nafas tidak efektif yang berhubungan dengan sekresi trakeobronkial yang sangat banyak, ketidakpatuhan terhadap regimen pengobatan, Intoleran aktifitas yang berhubungan dengan keletihan; perubahan status nutrisi; dan demam, Kurang pengetahuan tentang regimen pengobatan dan tindakan kesehatan preventif (C.Smeltzer & G.Bare, 2005). Adapun berbagai diagnosa yang telah disebutkan, penulis menetapkan diagnosa keperawatan dengan masalah keperawatan “Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif” yang akan dibahas lebih jauh pada pasien TB paru dengan gangguan kebutuhan dasar oksigenasi. Menurut Somantri dalam Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernafasan (2008:64) mengatakan penderita TB paru dapat dikatakan mengalami gangguan oksigenasi dengan bersihan jalan tidak efektif jika ditemukan data-data sebagai berikut : pasien mengeluh batuk, mengeluh sesak, mengatakan ada sekret di saluran nafas, serta pada pemeriksaan auskultasi adanya suara nafas abnormal (ronchi, rales, wheezing) dengan frekuensi nafas lebih dari 20x/mnt.
Perencanaan.
Intevensi keperawatan adalah desain spesifik dari perencanaan tindakan yang yang dapat dilakukan untuk membantu klien dan mencapai kriteria hasil. Rencana intervensi tersebut disusun berdasarkan penyebab dari diagnosa keperawatan. Tindakan tersebut meliputi intervensi asuhan keperawatan independen berdasarkan diagnosa keperawatan, tindakan medis berdasarkan diagnosa medis, dan membantu pemenuhan kebutuhan dasar fungsi kesehatan yang tidak dapat dilakukan (Nursalam, 2011). Ketidakmampuan pasien dalam memenihi kebutuhan adalah dasar dalam menentukan rencana keperawatan yang akan dilakukan, dari serangkaian tindakan yang dilakukan diharapakan pasien nantinya dapat memenuhi kebutuhan dasarrnya sendiri (Maryam, Setiawati, & Ekasari, 2007). Pada pasien TB paru dengan diagnosa Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif, dapat dirumuskan perencana sebagai berikut menurut Somantri dalam Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernafasan (2008:64) :
1)  Kemungkinan penyebab : Produksi sekret kental berlebih, fatigue, kemampuan batuk kurang.
2)  Tujuan dari tindakan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan jalan nafas bersih dengan kriteria yaitu pasien mengatakan batuk berkurang/hilang, tidak sesak dan sekret berkurang; suara nafas vesikuler, reguler; frekuensi nafas 16-20x/mnt (dewasa).
3)  Tindakan yang dapat direncanakan :
Adanya perubahan fungsi respirasi dan penggunaan otot tambahan menandakan kondisi penyakit yang masih dalam kodisi penanganan penuh sehingga diperlukan monitor fungsi respirasi antara lain suara, jumlah, irama, dan kedalaman nafas serta catat pula penggunaan otot nafas tambahan. Ketidakmampuan mengeluarkan sekret menjadikan timbulnya penumpukan berlebihan pada saluran pernafasan maka catat kemampuan mengeluarkan sekret/batuk secara efektif. Atur posisi tidur semi atau high fowler dan bantu pasien berlatih batuk secara efektif dan nafas dalam. Posisi semi fowler memberi kesempatan paru untuk berkembang secara maksimal, batuk efektif memudahkan ekspektorasi mukus. Bersihkan sekret dalam mulut dan trakea, suction jika mungkin. Pasien yang sesak cenderung bernafas melalui mulut, jika berlanjut berakibat stomatitis. Beri minum 2.500ml/hari atau sesuai kebutuhan, anjurkan minuman dalam kondisi hangat jika tidak ada kontraindikasi. Air dapat menggantikan keseimbangan cairan tubuh akibat banyaknya cairan keluar melalui mulut. Air hangat dapat mempermudah penganceran sekret. Beri O2, udara inspirasi yang lembab untuk meningkatkan kadar O2 dalam darah dan humidifier atau masker wajah dengan kelembapan tinggi dapat membantu mengencerkan sekresi. Beri pengobatan sesuai indikasi misalnya agen mukolitik (Acetilcystein), Bronkodilator(Theophyline, Oxtriphyline), Kortikodteroid (Dexamethasone) untuk mengencerkan dahak, memperlebar saluran nafas, mempertebal dinding daluran udara. Berikan anti-infeksi agar keaktifan mikroorganisme akan menurunkan respon inflamasi,sehingga berkurangnya produksi sekret


Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d :
§ Produksi Sekret kental berlebih.
§ Fatigue.
§ Kemampuan batuk kurang.
Data-Data :
Subyektif:
·   Pasien mengeluh batuk
·   Pasien mengeluh sesak.
·   Pasien mengatakan ada sekret di saluran nafas.
Obyektif:
·   Suara nafas abnormal(ronchi, rales, wheezing).
·   Frekuensi nafas....x/mnt (>20x/mnt)
Jalan nafas bersih dan efektif setelah...hari perawatan, dengan kriteria :
·    Pasien mengatakan batuk berkurang/hilang, tidak sesak dan sekret berkurang.
·    Suara nafas vesikuler, reguler.
·    Frekuensi nafas 16-20x/mnt (dewasa).
Independen :
1.  Monitor fungsi respirasi antara lain : suara, jumlah, irama, dan kedalaman nafas serta catat pula penggunaan otot nafas tambahan.
2.  Catat kemampuan mengeluarkan sekret/batuk secara efektif.
3.  Atur posisi tidur semi atau high fowler. Membantu pasien berlatih batuk secara efektif dan nafas dalam.
4.  Bersihkan sekret dalam mulut dan trakea, suction jika mungkin.
5.  Beri minum 2.500ml/hari atau sesuai kebutuhan, anjurkan minuman dalam kondisi hangat jika tidak ada kontraindikasi.
Kolaborasi :
6.    Beri O2, udara inspirasi yang lembab.
7.    Beri pengobatan sesuai indikasi :
·   Agen mukolitik : Acetilcystein.
·   Bronkodilator : Theophyline, Oxtriphyline.
·   Kortikodteroid : Dexamethasone.
8.    Berikan anti-infeksi
1.  Adanya perubahan fungsi respirasi dan penggunaan otot tambahan menandakan kondisi penyakit yang masih dalam kodisi penanganan penuh.
2.  Ketidakmampuan mengeluarkan sekret menjadikan timbulnya penumpukan berlebihan pada saluran pernafasan.
3.  Posisi semi fowler memberi kesempatan paru untuk berkembang secara maksimal, batuk efektif memudahkan ekspektorasi mukus.
4.  Pasien yang sesak cenderung bernafas melalui mulut, jika berlanjut berakibat stomatitis.
5.  Air dapat menggantikan keseimbangan cairan tubuh akibat banyaknya cairan keluar melalui mulut. Air hangat dapat mempermudah penganceran sekret.
6.  Berfungsi meningkatkan kadar O2 dalam darah.
7.  Berfungsi untuk mengencerkan dahak, memperlebar saluran nafas, mempertebal dinding daluran udara.
8.  Menurunya keaktifan mikroorganisme akan menurunkan respon inflamasi,sehingga berkurangnya produksi sekret.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar